KLIPING

KOMPAS

SEPUTAR INDONESIA

HARIAN JOGJA

KEDAULATAN RAKYAT

www.tembi.org

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

Karya-karya seni serat dalam pameran Fiber Face 2 Yogyakarta 2009 (doc. ivaa)

HARIAN JOGJA, Selasa, 6 Januari 2009

Evolusi kebudayaan lewat seni serat


Fiber art atau sering di sebut juga dengan seni serat kedengarannya seperti fenomena baru dalam kencah seni kontemporer Indonesia. Pameran seni rupa dengan tema ini memang baru merebak di beberap kota setelah tahun 2000 lalu.
Dalam kurun 3 dekade terakhir, sejumlah perupa menaruh minat pada unsure anyaman bambu, rotan, jerami, sabut, tali-temali, sulaman, tenun, kulit, buku kertas, dan sebagainya. Tanpa menyandang predikat seniman serat, mereka menggarap bahan-bahan itu dalam bentuk instalasi atau karya eksperimental lain, lalu sebagian lain menekuninya sebagai media spesifik. Kali ini bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, digelar Fiber Fice Evolusi, berlangsung pada 3-11 januari 2009, oleh Rumah Budaya Babaran Segaragunung. “Pameran ini yang ke dua kalinya. Yang pertama diadakan tahun 2007,”kata DS Priyadi, coordinator pameran. Akhir pecan lalu acara di buka denagn performance art ‘Serat Sinerat’ yang di bawakan Jemek Supardi dan Sekar Kinanthi Rahina. Tujuan pameran menurut Priyadi, untuk menciptakan ruang guna tukar-menukar wacana antar generasi, baik tua muda ataupun seni tradisional-seni kontemporer. “Poin utamanya untuk kontribusi pada generasi muda, agar melihat lebih dalam akar kebudayaan bangsanya ,”katanya.

DS Priyadi menambahkan salah satu latar belakang terselenggaranyapameran ini untuk membangun ruang aspirasi dan ekspresi, khususnya generasi muda dalam mengeksplorasi budaya kesenian, yang berangkat dari keberagaman kulturnya. Kebingungan generasi muda saat ini yang cinderung terpukau dengan kebudayaan western menjadi refleksi terciptanya Fiber Fice 2 yang juga diisi para pekerja seni dari manca Negara, seperti Amerika, Mali, Australia, dan Jerman. “kola borasi dengan seniman manca untuk berekspresi bersama dalam seni serat ini menunjukkuan bahwa kita sebenarnya bisa saling eksis tanpa meninggalkan kultur masing-masing, “tambah Priyadi.sedikitnya 40 seniman mempersembahkan karya-karyanya. Wajah kelompok kasobane, yang merintis revitalisasi kain bogolan sebagai lambang kultural Mali.Wajah penduduk Aborigin dari kelompok Ernabella, Brigitte willach dari jerman, Betsy sterling Benjamin serta sejumlah mahasiswa Western Michigan University dari Amerika, yang menggunakan batik sebagai lingua franca untuk berkomunikasi.


Wajah Hani Winotosastro, penerus generasi ke-5 dari usaha keluarga pembatik yang legendaris. Wajah Biranul Anas, Kasman, dan rekan-rekan lain yang lebih muda di Yogya, Bandung, Jakarta, yang siap membuka cakrawala baru di dunia yang kian hari serba kian Fiber optic. Serat menjadi pilihan medianya, karena sifatnya yang unifersa. Ia bukan sekedar untuk jarik, tapi bisa merangkul semua kebudayaan.tertgantung manusia memperlakukannya, sesuai kultur masing-masing.Dari jauh, pameran ini juga sebagai symbol kritik, ketika masih geger karena masalah klaim batik oleh Malaysia. Menurut Priyadi, urusan klaim identitas tak lebih bahasa pasar. Seharusnya hal itu tak perlu di permasalahkan, karma setiap seniman punya cirri khas  dan identitas sendiri,”Pembatik tulis Imogiri misalnya, batiknya pasti punya ciri khas tersendiri, tergantung kultur yang menghidupinya.Tiap seniman pasti punya (identitas) itu, jadi seniman nggak usah kawatir dengan urusan klaim-mengklaim itu, “pungkas Priyadi”


Seni Fiber memang bukan jenis senirupa yang lain, “Kita sering menemui bentuknya dalam karya instalasi, patung kolase, rajut, pintalan, anyaman, songket, atau apa saja, dari bahan serat. Betapa Fiber adalah media kesenian yang justru primodial, telah mengakar lama dari masa ke masa. Bukan muskil, pangkalnya jauh menghujam sampai peradaban situs sangiran. “Wajah Fiber lekat dalam tradisi seni anyaman dan tekstil turun-temurun.

 

"Centering" karya kolaborasi Betsy Sterling & Luanne Rimel dari USA dalam pameran Fiber Face 2 Yogyakarta 2009 (doc. ivaa)

   

 

 

 

Copyright © 2007Babaran Segaragunung