KLIPING

KOMPAS

SEPUTAR INDONESIA

HARIAN JOGJA

KEDAULATAN RAKYAT

www.tembi.org

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

Karya-karya seni serat dalam pameran Fiber Face 2 Yogyakarta 2009 (doc. bsg)

KOMPAS
SENIN,12 JANUARI  2009                        

Seni Serat dalam Evolusi Zaman
Oleh IRENE SARWINDANINGRUM

Seolah tak hendak dikekang waktu, seni serat atau Fiber art tak berhenti berevolusi. Bentuk dan wajahnya turut berubah seiring bergulirnya zaman. Mengusung tema “Evolusi”, pameran Fiber Face 2 Yogyakarta  2009 menyajikan beragam wajah seni serat dalam evolusinya.

Mulai dari seni tradisional seperti batik dan wayang hingga yang lebih kontemporer seperti karya instalasi dari jalinan rambut atau anyaman kawat nyamuk, pameran yang berlangsung di Taman Budaya yogyakarta, 3-11 Januari, ini menampilkan keunikan dan keindahan seni serat dalam beragam kurun waktu. “Jenis seni serat yang paling tua di sini adalah batik dan wayang, walau saat itu mereka tidak menyebutnya sebagai seni serat,” kata koordinator acara DS. Priyadi di sela-sela acara pembukaan pameran, awal Januari 2009.

Meskipun penggunaan bisa terlacak hingga ke awal peradaban, istilah “seni serat” memang terdengar relatif baru. Pameranpun bisa dibilang langka bila dibandingkan seni lukis atau patung. Padahal, penggunaan serat terlacak hinga ke awal peradaban, manusia. Dari anyaman akar hingga jalinan serat optik, seni serat mengambil wajah dan rupa baru sesuai dengan media yang disediakan zaman.

Menurut catatan kuratorial Rumah Budaya Segaragunung sebagai penyelenggara pemeran ini, istilah seni serat baru mulai populer sekitar tahun 2000. Dalam kurun waktu tiga dekade terakhir, sejumlah perupa menaruh minatnya pada unsur anyaman bambu, rotan, jeram, sabu, tali, sulaman, tenun, kulit, bulu, hingga serat kabel. “Tanpa menyandang sebutan seniman serat, mereka menggarap bahan-bahan itu dalam karya eksperimental sebagian lagi konsisten menekuninya sebagai media spesifik,” kata Priyadi.

Salah seorang seniman yang konsisten menekuni seni serat, Biranul Anas memaparkan, seni serat punya pengertian yang sangat luas baik bentuk maupun medianya. Oleh karena itu, seni serat menyediakan lebih banyak ruang ekspresi bagi setiap senimannya. “semua karya seni yang mengolah benda bertekstur serat sebagai medianya, bisa di sebut seni serat,” kata lelaki asal Bandung, Jawa Barat ini.

Kerusakan Alam
Biranul yang juga dosen seni serat itu, salah satu peserta dari 41 peserta pameran lainnya.
Karyanya yang berjudul Broken Paradise menggambarkan dengan penuh warna kerusakan alam Indonesia. Karya yang di gantung mirip lukisan ini memadukan teknik tapestri, sulam, dan kolase.

Karya perupa Ipo Synthetic menunjukkan keunikan tersendiri. Perupa asal surabaya, Jasswa Timur, itu menampilkan dua buah karya instalasi yang terbuat dari jalinan rambut, salah satu Nevarious yang berupa kepala perempuan. Seolah menjembatamni yang tradisional dan kontemporer, karya sugeng wardoyo berjudul Narima ing Pandum merupakan paduan serat dari dua zaman.

Karya instalasi ini merupakan paduan antara kayu, batik alam sebagai wakil zaman silam, dan sejumlah dinamo lengkap dengan serat tembaga bercerabutan sebagai wakil zaman ini.
Selain menunjukkan evolusi serat, penyanding seni serat tradisi dan modern dalam pameran juga bermaksud mendorong terjadinya akulturasi antara yang tradisi dan kontemporer. Dengan demikian, seniman bisa lebih bereksplorasi lebih maksimal, tanpa terikat pada jenis media.

Sebagai sorotan khusus pameran ini di pilih batik karya ibu-ibu desa Giriloyo, Kabupaten Bantul DIY yang tergabung dalam Koperasi Bima Sakti. Batik-batik karya mereka yang terkenal akan kehalusannya terpajang di sudut ruangan. Sejumlah kain batik dengan motif asal keraton yang sudah jarang ditemui pun turut di pajang. “zaman sekarang sudah jarang anak muada yang bisa membuat motif-motif ini.tinggal ibu ibu tua yang masih mengingatnya,” kata ketua kelompok Bima Sakti.         


 

"Broken Paradise" karya Biranul Anas dalam pameran Fiber Face 2 Yogyakarta 2009 (doc. ivaa)

   

 

 

Copyright © 2007Babaran Segaragunung