KLIPING

KOMPAS

SEPUTAR INDONESIA

HARIAN JOGJA

KEDAULATAN RAKYAT

www.tembi.org

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

Batik-batik tradisional Bimasakti yang menjadi spot light dalam Fiber Face, mendapat banyak perhatian dari para pengunjung pameran. (doc. ivaa)

www.tembi.org

'EVOLUSI' SENI SERAT DALAM FIBER FACE

Satu pameran karya seni, yang rasanya agak lain dari pameran seni selama ini. Karena, pameran seni selama ini banyak menyajikan seni lukis dan seni patung. Ini kali, di Taman Budaya dari tanggal 3-11 Jaanuari 2009 , Rumah Budaya Segara Gunung, menyelenggarakan pameran seni serat yang dinamai ‘Fiber Face 2’ dan diberi tajuk ‘Evolusi’.

Seni serat yang dipamerkan, menampilkan seni tradisi batik dan wayang. Dua jenis karya seni itu telah dikenal, setidaknya oleh orang Jawa. Pada jenis seni batik, sekarang sudah sulit ditemukan, khususnya batik tulis. Kalau batik cap, yang dibuat secara kodian, mudah dicari di Yogyakarta. Seni batik yang dipamerkan, selain batik tradisional, ada juga jenis batik yang telah mengalami ‘evolusi’, sehingga coraknya sangat berbeda dengan batik tradisional. Misalnya, batik tradisional yang dipamerkan karya Winotosastro ‘Batik Campur’ (2007) judulnya. Batik itu dibuat diatas catoon. Batik yang telah melakukan ‘evolusi’, misalnya karya Brandon Cady, mahasiswa dari Western Michigan University, yang diberi judul ‘Tree of life’ (2007) dan dibuat diatas catoon. Judul yang lain, ‘Savoir-Faire’ (2008) karya Casey Irvine, mahasiswa dari Westren Michigan University.

Seni wayang juga dipamerkan dalam Fiber Face 2 ‘Evolusi’ ini. Meski wayang bukan jenis seni serat, namun kehadirannya di ruang pamer meneguhkan bahwa seni wayang sudah lama dikenal oleh publik. Sukasman, seorang kreator wayang, menyajikan visual wayang dan diberi judul ‘Meluruskan stilasi wayang kulit purwo yang sudah lama berhenti’.
Rasanya, seni serat merupakan jenis seni yang ‘baru’. Belum terlalu dikenal sebagaimana seni lukis, namun dari segi hasil karya, seni serat memberikan keindahan dan ketekunan tersendiri. Rasanya pula, seni serat merupakan rumpun seni rupa yang jarang dihadirkan ke publik. Karya-karya yang ditampilkan pada pameran yang mengambil tempat di Taman Budaya Yogyakarta ini, merupakan beragam jenis karya ‘seni rupa’. Misalnya ada patung kepala orang yang dibuat dari synthentic dan rambut dengan teknik sasak sulam ikat. Seluruh kepalanya berwarna hitam, hanya bibirnya yang berwarna merah. Judul karya itu ‘Nevarious’.

Selain judul-judul karya yang menggunakan istilah asing, ada juga judul karya yang menggunakan bahasa Jawa. Barangkali judul ini hendak ‘membumikan’’ seni serat pada seni tradisi batik Jawa. ‘Nrimo Ing Pandum’ judul karya seni tersebut yang dibuat oleh Sugeng Wardoyo.

Mungkin catatan kuratorial yang dibuat oleh Rumah Budaya Babaran Segaragunung bisa memberikan gamabaran apa yang disebut sebagai fiber art, atau fiber face ini. Dengarkan penggalan dari apa yang dikatakan:

“Fiber art kedengaran seperti fenomena baru dalam kancah seni kontemporer Indonesia. Sebutan ini memang nyatanya baru; pameran seni rupa yang menggunakan tajuk ini, baru merebak di beberapa kota pasca tahun 2000 lalu. Padahal, seni serat –demikian terjemahan ala kadarnya—agaknya bukan perihal yang sungguh-sungguh baru.
Dalam kurun 3 dekade terakhir, tercatat sejumlah perupa menaruh minatnya pada unsur anyaman bambu, rotan, jerami, sabut, tali-temali, sulaman, tenun, kulit, bulu, kertas dsb. Tanpa menyandang predikat ‘seniman serat’, mereka menggarap bahan-bahan itu –sebagian sporadis —dalam bentuk instalasi atau karya eksperimental lain, lalu sebagian lagi konsisten menekuninya sebagai media yang spesifik.

Seni ‘fiber’ memang bukan jenis seni rupa yang lain; kita kerap jumpai wajahnya dalam karya instalasi, patung, kolase, rajut, pintalan, anyaman, songket, atau apa saja –yang terdiri dari bahan baku serat. Wajah ‘fiber’ ini, terutama lekat pula dalam tradisi seni anyaman dan tekstil yang turun temurun di Nusantara. Dan aneka ragam tekstil yang dihasilkan para leluhur mestinya, hingga kini terbukti jadi tempat pujian dan penelitian yang terus mengalir dari berbagai penjuru dunia –karena keistimewaannya”.

Ons Untoro

Karya-karya Sukasman dalam Fiber Face 2 Yogya 2009: Meluruskan stilasi wayang purwa yang sudah lama berhenti.............(doc. ivaa)

 

 

Copyright © 2007Babaran Segaragunung